pada hari santri 2026 kali ini mimin akan membahas arti atau ma'na dari santri, artikel ini saya kutip dari Nu Online Makna Santri Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata 'santri' setidaknya mengandung dua makna. Arti pertama adalah orang yang mendalami agama Islam, dan pemaknaan kedua adalah orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh atau orang yang saleh.
Santri selama ini
digunakan untuk menyebut kaum atau orang-orang yang sedang atau pernah
memperdalam ajaran agama Islam di pondok pesantren. Kata
'pesantren' oleh sebagian kalangan diyakini sebagai asal-usul tercetusnya
istilah 'santri.' Kendati begitu, ada cukup banyak pendapat yang memaparkan
kemungkinan sejarah atau asal usul kata 'santri'. Bahkan, tidak sedikit ahli
yang meyakini bahwa tradisi nyantri sudah ada sejak sebelum ajaran Islam masuk
ke Nusantara, atau dengan kata lain pada masa Hindu dan Buddha.
Dikutip dari tirto.id salah satu versi mengenai asal usul
istilah 'santri' berasal dari bahasa Sanskerta. Istilah 'santri' diambil dari
salah satu kata dalam bahasa Sanskerta, yaitu sastri yang artinya 'melek huruf'
atau 'bisa membaca'. Versi ini terhubung dengan pendapat C.C. Berg yang
menyebut istilah 'santri' berasal dari kata shastri yang dalam bahasa India
berarti 'orang yang mempelajari kitab-kitab suci agama Hindu'. Sanskerta
merupakan bahasa liturgis dalam agama Hindu, Buddha, dan ajaran Jainisme, serta
salah satu dari 23 bahasa resmi di India.
Sanskerta pernah digunakan di Nusantara pada masa Hindu dan
Buddha yang berlangsung sejak abad ke-2 Masehi hingga menjelang abad ke-16
seiring runtuhnya Kerajaan Majapahit. Ada pula yang mengaitkan asal usul
istilah 'santri' dengan kata-kata dalam bahasa Inggris, yaitu sun (matahari)
dan three (tiga), menjadi tiga matahari.
Dinukil dari tulisan Aris Adi Leksono bertajuk 'Revitalisasi
Karakter Santri di Era Milenial' dalam NU Online, maksud tiga matahari itu
adalah tiga keharusan yang harus dimiliki oleh seorang santri, yaitu Iman,
Islam, dan Ihsan. Istilah 'santri' bisa pula dimaknai dengan arti
'jagalah tiga hal', sebagaimana yang tertulis di buku Sejarah Pergerakan
Nasional (2015) karya Fajriudin Muttaqin dan kawan-kawan, yaitu menjaga
'ketaatan kepada Allah, menjaga ketaatan kepada Rasul-Nya, dan menjaga hubungan
dengan para pemimpin'. Dari
bahasa Arab, asal usul istilah 'santri' juga bisa ditelaah.
Kata 'santri'
terdiri dari empat huruf Arab, yakni sin, nun, ta’, dan ro’ yang masing-masing
mengandung makna tersendiri dan hendaknya tercermin dalam sikap seorang santri,
demikian dikutip dari buku Kiai Juga Manusia: Mengurai Plus Minus Pesantren
(2009). Menurut ulama dari Pandeglang, Banten, KH Abdullah Dimyathy,
huruf sin merujuk pada satrul al ‘awroh atau 'menutup aurat'; huruf nun berasal
dari istilah na’ibul ulama yang berarti 'wakil dari ulama'; huruf ta’ dari
tarkul al-ma’ashi atau 'meninggalkan kemaksiatan'; serta huruf ‘ro dari ra’isul
ummah alias 'pemimpin umat'. Sedangkan dalam pandangan KHMA Sahal Mahfudz, Rais
Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 1999-2014,
kata 'santri' berasal dari bahasa Arab yakni
santaro yang berarti 'menutup'. Santri adalah orang yang belajar, bukan justru
menutup. Maka, dikutip dari jurnal Ulul Albab (2014) seorang santri mustahil
santaro. KH Ma’ruf Amin saat menjabat sebagai Rais Aam PBNU menegaskan, sebutan
santri bukan hanya diperuntukkan bagi orang yang berada di pondok pesantren dan
bisa mengaji kitab. Namun, santri adalah orang-orang yang meneladani para
kiai. “Santri adalah orang-orang yang ikut kiai, apakah dia belajar di
pesantren atau tidak, tapi ikut kegiatan kiai, manut [patuh] kepada kiai. Itu
dianggap sebagai santri walaupun dia tidak bisa baca kitab, tapi dia mengikuti
perjuangan para santri,” papar Ma’ruf Amin.
Interpretasi
makna santri yang hampir serupa juga dipaparkan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil
Siroj. Menurut dia, santri adalah umat yang menerima ajaran-ajaran Islam dari
para kiai. Para kiai itu belajar Islam dari guru-gurunya yang terhubung sampai
Nabi Muhammad. Said Aqil Siroj menambahkan, santri menerima Islam dan
menyebarkannya dengan pendekatan budaya yang berakhlakul karimah, bergaul
dengan sesama dengan baik. Santri juga menghormati budaya, bahkan menjadikannya
sebagai infrastruktur agama, kecuali budaya yang bertentangan ajaran Islam
