Keutamaan Hari Jumah
Keutamaan Hari Jumah

Dalam Kamus Al-Lughah Al-‘Arabiyah Al-Mu‘ashirah, kata Jumat ternyata bisa dibaca dengan tiga cara, yaitu “Jumu‘ah”, “Jum‘ah”, dan “Juma‘ah”. Meski demikian, bacaan yang paling populer dan paling sering digunakan adalah “Jumu‘ah”. Menurut Imam al-Farra’, ketiga bacaan tersebut memiliki makna yang sama, yaitu berkumpulnya manusia.    Menariknya, sebelum Islam datang, masyarakat Arab Jahiliyah belum mengenal nama “Jumat”. Dalam kitab Hasyiyah al-Jamal,  jilid 2 halaman 2, Syekh Sulaiman Jamal menjelaskan bahwa hari Jumat dahulu disebut dengan nama “‘Arubah”. Nama ini berkaitan dengan tradisi berhias, menunjukkan kebanggaan, dan saling memamerkan kelebihan. Pada hari itu, orang-orang Arab berkumpul untuk mempertontonkan banyak hal. Ada yang membacakan puisi terbaiknya, memamerkan hasil perdagangan, menunjukkan kemampuan sihir, hingga membanggakan suku dan kekayaan mereka masing-masing. Karena itu, hari ‘Arubah pada masa Jahiliyah menjadi simbol kemegahan dan kebanggaan duniawi masyarakat Arab saat itu. Ketika Islam datang, turunlah firman Allah yang merubah tradisi hari pamer tersebut menjadi tradisi hari yang penuh dengan keimanan, hari mendekatkan diri kepada Allah, dan menjadi hari persatuan umat, serta ajang silaturahim akbar.


Ayat tersebut adalah: 


  يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَّوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ وَذَرُوا الْبَيْعَۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ۝٩ 


Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila (seruan) untuk melaksanakan salat pada hari Jumat telah dikumandangkan, segeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Q.S Al-Jumu’ah: 9).



Hari Jumat juga disebut sayyidul ayyam, yaitu penghulu segala hari. Hal ini karena banyak keistimewaan dan peristiwa yang Allah takdirkan pada hari Jumat. Al-Imam al-Syafi’i dan al-Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Sa’ad bin ‘Ubadah:


   سَيِّدُ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللهِ يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَهُوَ أَعْظَمُ مِنْ يَوْمِ النَّحَرِ وَيَوْمُ الْفِطْرِ وَفِيْهِ خَمْسُ خِصَالٍ فِيْهِ خَلَقَ اللهُ آدَمَ وَفِيْهِ أُهْبِطَ مِنَ الْجَنَّةِ إِلَى الْأَرْضِ وَفِيْهِ تُوُفِّيَ وَفِيْهِ سَاعَةٌ لَا يَسْأَلُ الْعَبْدُ فِيْهَا اللهَ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ مَا لَمْ يَسْأَلْ إِثْمًا أَوْ قَطِيْعَةَ رَحِمٍ وَفِيْهِ تَقُوْمُ السَّاعَةُ وَمَا مِنْ مَلَكٍ مُقّرَّبٍ وَلَا سَمَاءٍ وَلَا أَرْضٍ وَلَا رِيْحٍ وَلَا جَبَلٍ وَلَا حَجَرٍ إِلَّا وَهُوَ مُشْفِقٌ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ   


Artinya: “Rajanya hari di sisi Allah adalah hari Jumat. Ia lebih agung dari pada hari raya kurban dan hari raya Fitri. Di dalam Jumat terdapat lima keutamaan. Pada hari Jumat Allah menciptakan Nabi Adam dan mengeluarkannya dari surga ke bumi.    Pada hari Jumat pula Nabi Adam wafat. Di dalam hari Jumat terdapat waktu yang tiada seorang hamba meminta sesuatu di dalamnya kecuali Allah mengabulkan permintaannya, selama tidak meminta dosa atau memutus tali shilaturrahim. Hari kiamat juga terjadi di hari Jumat. Tiada Malaikat yang didekatkan di sisi Allah, langit, bumi, angin, gunung dan batu kecuali ia khawatir terjadinya kiamat saat hari Jumat”.   


Imam Ibnu Hajar al-Asqallani dalam kitab Fathul Bari, menjelaskan sebuah hadits riwayat Imam Ahmad yang menjelaskan keistimewaan hari Jumat. Salah satu peristiwa besar yang terjadi pada hari tersebut adalah penciptaan Nabi Adam AS.   Dikisahkan, Rasulullah  pernah ditanya, “Mengapa dinamakan hari Jumat?”   Nabi menjawab:   “Karena pada hari itu tanah liat ayah kalian, Adam, dicetak (ciptakan). Pada hari itu pula terjadi kiamat dan kebangkitan. Pada hari itu juga kehancuran akan terjadi. Dan pada akhir tiga waktu di hari itu terdapat satu waktu yang apabila seorang hamba berdoa kepada Allah, maka doanya pasti dikabulkan.”   Hadits ini menunjukkan bahwa hari Jumat bukan sekadar hari berkumpulnya umat Islam untuk beribadah. Lebih dari itu, Jumat adalah hari yang memiliki hubungan erat dengan perjalanan hidup manusia sejak awal penciptaan Nabi Adam AS hingga datangnya hari kiamat. Karena itu, Islam menempatkan hari Jumat sebagai hari yang istimewa, penuh keberkahan, dan dianjurkan untuk memperbanyak ibadah serta doa.


Pada hari Jumat, umat Islam diwajibkan melaksanakan shalat Jumat secara berjamaah. Dalam Hasyiah I’anah at-Thalibin jilid 2, halaman 88–89, disebutka shalat Jumat juga memiliki banyak keutamaan. 

Di antaranya disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah  bersabda:


   الصَّلاَةُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ  


 Artinya: “Shalat lima waktu dan Jumat ke Jumat berikutnya menjadi penghapus dosa di antara keduanya, selama tidak melakukan dosa besar.” (HR. Muslim).   


Ada juga hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi, dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash. Rasulullah  bersabda:


   مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوْتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ   


Artinya: “Tidak ada seorang Muslim yang meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat, kecuali Allah melindunginya dari fitnah kubur.”   Dari sini kita bisa melihat bahwa hari Jumat bukan hanya hari ibadah mingguan, tetapi juga hari yang penuh keutamaan, ampunan, dan keberkahan bagi umat Islam.


Informasi Pesantren